Home > Kunjungan Museum > Baru kali ini ke Museum Nasional (Museum Gajah)

Baru kali ini ke Museum Nasional (Museum Gajah)

Sabtu ini kami sekeluarga telah menyusun agenda untuk mengunjungi Istana Presiden – yang kami ketahui sebagai dari bagian program kehumasan, pihak Istana telah membolehkan adanya kunjungan masyarakat untuk melihat Istana Negaranya sendiri, mirip-mirip seperti Istana Presiden di Amerika sana.

Namun sepertinya kami kurang beruntung hari ini, disebabkan kurangnya informasi yang kami dapatkan – ternyata ada batasan bagi pengunjung Istana. Salah satunya tidak boleh menggunakan celana Jeans, sandal, dan pengunjung harus meninggalkan KTP. Kami membayangkan kegiatan Sabtu ini kegiatan informal, kebetulan kami sekeluarga memakai jeans – jadinya ya… mungkin kami harus mengagendakan kunjungan ke Istana lain waktu.

Hm… kemana ya, langsung terlintas melakukan kunjungan ke Museum Nasional – yang terletak berhadapan dengan Monas – monumen nasional, sejajar dengan Gedung Indosat.

Langsung saja kami arahkan mobil kami ke Museum Nasional. Ini merupakan kesempatan pertama kami ke museum ini. Gedung ini sebenarnya kami lintasi, dari sisi jalan Merdeka – gedung ini cukup terawat, bahkan beberapa kali sering terlihat ada aktivitas/pameran khusus disana.

Memasuki pelataran parkir Museum Nasional, dari depan terlihat ada aktivitas disitu, ada sesi pemotretan euy. Anak-anak diturunkan di lobi gedung dan kendaraan di parkir di basement gedung.

Hari menunjukkan pukul 10.30, namun situasi museum saat itu belum terlalu ramai. TeRrlebih dahulu kami harus membeli tiket masuk museum seharga Rp 5,000/kepala untuk dewasa dan Rp 3,000 untuk anak-anak.

Museum ini mempunyai banyak koleksi, menurut info dari webnya yang terdapat di http://www.museumnasional.or.id/ ,  saat ini koleksi yang dikelola berjumlah 141.899 benda, terdiri atas 7 jenis koleksi yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismtik-heraldik, sejarah, etnografi dan geografi. Selain itu museum ini terdiri dari 3 gedung utama yang dibagi menjadi beberapa tema yang terdiri dari  gedung lama (Unit A) yang menampung jenis-jenis koleksi, baik berdasarkan keilmuan, bahan, maupun kedaerahan. Seperti Ruang pameran Prasejarah, Ruang Perunggu, Ruang Tekstil, Ruang Etnografi daerah Sumatra, dan lain-lain. Sedangkan gedung baru (Unit B atau Gedung Arca) menyimpan jenis koleksi   tema berdasarkan aspek-aspek kebudayaan yang mana manusia diposisikan sebagai pelaku dalam lingkungan tempat tinggalnya. Tema pameran yang berjudul “Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan” ini terdiri dari beberapa subtema antara lain [1] Manusia dan Lingkungan, [2] Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, [3] Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, dan [4] Khasanah dan Keramik.

Gedung Unit C direncanakan akan dibangun untuk memperluas tata pameran yang sudah ada dan untuk melengkapi subtema terakhir yaitu [5] Religi dan Kesenian

Memasuki gedung utama, kami langsung disuguhkan dengan deretan beberap arca dari situs-situs candi  seluruh Indonesia warisan peninggalan agama Hindu dan Budha.  Di bagian lain kami juga langsung dapat menyaksikan maket pulau-pulau di Indonesia yang menunjukkan letak gunung berapi yang ada di seluruh pulau Indonesia.

Zalfa langsung begitu antusias meneliti seluruh sudut gedung Utama itu, dengan berbekal buku catatan kecil, dia langsung mencatat barang-barang yang dia amati. Sejak awal kami bersepakat, bahwa anak-anak perlu mencatat setiap hal yang menarik perhatian untuk jadi dokumentasi setiap aktivitas perjalanan bersama keluarga.

This slideshow requires JavaScript.

Gedung utama – yang merupakan gedung awal dari Museum ini umumnya memuat beberapa benda peninggalan sejarah diantaranya :

  1. Benda-benda adat tradisional dari seluruh Indonesia
  2. Alat musik tradisional dari seluruh Indonesia
  3. Arca dari situs peninggalan kebudayaan Budha dan Hindu
  4. Batuan peninggalan zaman prasejarah.

Koleksinya museum ini memang terbilang cukup lengkap, beberapa benda ada yang dipinjamkan untuk kepentingan pameran kebudayaan Indonesia di beberapa Negara seperti Belanda , Belgia dan Negara lainnya.

Nah puas berkeliling, kami menuju Gedung kedua yang terhubung melalui jembatan melintasi kedua gedung tersebut. Gedung kedua terkesan lebih modern, terdiri dari 3 lantai, Elevator menjadi penghubung atara 1 lantai dengan lantai lainnya. Disini anak-anak mulai tampak antusias, karena ada sesuatu yang khusus di gedung ini, terdapat koleksi beberapa alat music kumpulan dari seluruh Indonesia, dan kita punya kesempatan untuk bisa memainkan beberapa alat musik itu.  Pada saat itu pengunjung sudah mulai banyak – banyak diantaranya adalah para turis mancanegara.Kebetulan saat Zalfa dan Aisyah main alat music, ada turis Amerika yang tertarik untuk memotretnya. Cepret.. seneng deh dua bocah itu jadi model gratis..

Berikut foto-foto dari kunjugan itu :

Hari ini terasa begitu menyenangkan, dapat ilmu baru, tepat jam jam 13:30 setelah shalat Dzuhur

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: